Selasa, 17 April 2012

Cinta Datang Tiba-Tiba


“Cinta datang tiba-tiba, cinta adalah anugerah Yang Kuasa.
Cinta tak kan sia-sia, ketika kau menyapa.
Engkau datang cerahkan jiwaku.
Cahya-Mu, Cinta-Mu, hiasi hidupku.
Cinta datang tiba-tiba, cinta adalah anugerah Yang Kuasa.
Cinta tak kan sia-sia, ketika kau menyapa.”


Begitulah kutipan lagu seorang penyanyi ternama Indonesia, Marcell yang saya ubah liriknya. Hal ini terbesit ketika teringat kembali pengalaman pribadi. Secuil petikan hidup, yang bias jadi terjadi pula pada saudaraku lainnya yang akhirnya membuat kita berubah menjadi kita yang seperti sekarang ini. Intinya adalah karena “cinta yang datang tiba-tiba”.

Allah mencintai hamba-Nya melebihi rasa cinta seorang ibu kepada anaknya, melebihi rasa cinta suami kepada istrinya, dan melebihi rasa cinta seekor induk burung kepada anak-anaknya. Terkadang terasa oleh kita cinta-Nya merasuk ke dalam hati dengan tiba-tiba, menggugah hati untuk merasa dan menggugah nurani dengan kelembutan tiada tara.

Sebenarnya sudah merupakan sunnatullah, bahwa sesungguhnya Allah berkuasa untuk memberikan jalan petunjuk kepada hamba-Nya dan juga berkuasa untuk memberikan jalan kesesatan kepada hamba-Nya jika hamba tersebut tetap menjauh dan ingkar kepada Allah swt.

Sungguh, merupakan fitrah manusia untuk selalu condong kepada kejujuran, kelembutan, kedermawanan, dan ketundukan kepada Rabb-nya, serta berbagai kebaikan-kebaikan lainnya. Seperti salah satu hadits berikut, Nawwas bin Sam’an berkata, Nabi saw, bersabda:
“Kebajikan adalah akhlaq yang terpuji, sedangkan dosa adalah apa yang meresahkan jiwamu serta engkau tidak suka apabila masalah itu diketahui orang lain” (HR. Muslim).

Namun, hal yang tidak boleh dipungkiri adalah bahwa manusia memiliki akal dan nafsu, dimana dengan akal tersebut Allah memberikan kebebasan kepada manusia untuk memilih antara jalan kebenaran dan jalan kebatilan dan ketika nafsu menjadi raja dan ego tak bisa dikendalikan, segala sifat fitrah manusia itu seakan sirna dan lenyap begitu saja.

Kembali kepada “Cinta yang datang tiba-tiba” ini. Salah satu kisah yang ingin saya cuplik di sini adalah kisah salah seorang sahabat nabi, Umar bin Khathab RA. Jika kita membaca Sirah Nabawiyah (Sejarah Nabi), maka kita akan menemukan episode yang menceritakan bahwa Umar bin Khathab adalah salah seorang yang menentang mati-matian dakwah Islam Nabi Muhammad saw, karena dia sangat menjunjung tinggi rasa kekeluargaan dan cinta kebudayaan tanah air. Umar sebelum masuk Islam adalah seseorang yang sangat mencintai peribadatan kepada berhala-berhala, bukan karena apa-apa, tak lain hanya karena dia melihat bahwa ini adalah sebuah tradisi turun-temurun yang harus dilestarikan oleh bangsa Arab. Oleh karena itu, ketika seorang bernama Muhammad saw datang dan mengaku nabi serta membawa sebuah ajaran baru yang meng-Esa-kan Tuhan, Umar merasa eksistensi bangsa Arab terancam.

Panggilan jiwa patriotisme yang sangat mencintai tradisi bangsanya membuat dia merasa harus melakukan sesuatu. Sesuatu yang mampu mengembalikan kepada keadaan semula, ketika bangsa Arab tidak terpecah kepercayaannya sebelum kedatangan Muhammad saw.
Satu hal yang ketika itu terlintas di benaknya adalah, “Aku harus membunuh Muhammad!”

Namun, pada titik itu dia merasa gelisah, bagaimana mungkin ia bisa membunuh Muhammad saw yang notabene adalah orang yang tepercaya dan tidak memiliki track record yang buruk semasa hidupnya dan kabilahnya (suku) Muhammad saw merupakan kabilah yang cukup disegani di bangsa Arab. Jika dia membunuh Muhammad saw, justru dia akan menimbulkan peperangan lagi di bangsa Arab, antara kabilahnya dan sekutunya serta kabilah Muhammad saw dengan sekutunya pula. Hal ini malahan akan membuat suasana semakin memburuk.

Suatu malam, ketika Umar ingin mencari khamr di Mekah, dia tidak mendapatkannya, lalu dia berfikir untuk pergi ke Ka’bah untuk melakukan thawaf (thawaf yang dilakukan pada masa Arab jahiliyah). Maka, ketika itu dia menemukan Rasulullah saw sedang shalat menghadap ke Ka’bah. Umar mengendap-endap ingin mengetahui apa yang dibaca oleh Muhammad saw, seseorang yang dikatakan penyair gila oleh masyarakat Arab yang lain.

Dalam hati, Umar berkata bahwa Muhammad saw adalah seorang penyair ulung, lalu ketika itu Nabi Muhammad saw membaca:
“Bahwa ini sungguh perkataan Rasul yang mulia. Itu bukanlah perkataan seorang penyair, sedikit sekali kamu percaya!” (QS. Al-Haqqah: 40-41).

Umar seketika tersentak, bagaimana bisa Muhammad membacakan sesuatu yang merupakan reaksi dari apa yang dipikirkannya di dalam hati. Lalu, Umar berpikir bahwa dapat dipastikan bahwa Muhammad saw adalah seorang dukun (peramal). Lagi-lagi, Nabi Muhammad saw membacakan:
“Juga bukan perkataan seorang peramal, sedikit sekali kamu mau menerima peringatan. (Ini adalah wahyu) yang diturunkan dari Tuhan semesta alam. Dan kalau dia (Muhammad) mengada-adakan perkataan atas nama Kami, pasti Kami tangkap dia dengan tangan kanan, kemudian pasti Kami potong pembuluh darahnya. Maka tak seorang pun dari kamu dapat mempertahankannya.” (QS. Al-Haqqah: 42-47).

Maka saat itulah, cinta-Nya merasuk ke relung hati Umar menyapa dengan tiba-tiba dan membuat dia merasa bahwa sungguh ini adalah cinta yang hakiki dan setelah itu Umar RA menyatakan keislamannya di hadapan Rasulullah saw.

Jika kita mengambil ibrah (pelajaran) dari kisah ini, maka dapat kita lihat bahwa meskipun seseorang sangat membenci dan bahkan sangat keras permusuhannya terhadap Islam, terhadap Allah, dan kepada Rasulullah, namun jika Allah menghendaki, maka justru cinta itu akan merasuk dan menjadi petunjuk di dalam hidupnya.

Jika kita menilik lebih mendalam, bagaimana seorang Umar RA yang pada awalnya beringas, begitu keras permusuhannya terhadap apa yang dibawa oleh Muhammad saw, dan seorang pecandu khamr, hatinya bisa terketuk untuk menerima hidayah Allah. Hal ini tidak lain dan tidak bukan karena Allah swt telah memberikan shibghah (celupan) di hatinya Umar RA. Celupan yang membuat hati itu kembali bersih dan melunturkan berbagai kegelapan dan kepekatan hati yang semula menjadi penghalang antara dia dengan Rabb-nya.

Sesungguhnya, meskipun Umar RA sebelum masuk Islam memiliki tabiat yang buruk, namun di hati kecilnya dia adalah seorang yang baik, pejuang sejati, dan seorang prajurit yang memiliki jiwa patriotisme yang tinggi. Nilai-nilai luhur yang masih dimiliki oleh nuraninya itulah yang beresonansi ketika cinta-Nya datang dengan tiba-tiba, membuat hatinya bergetar begitu hebat, membuat dadanya sesak, membuat air matanya mengalir, karena sesungguhnya cinta yang hakiki, fitrahnya telah kembali dan hal tersebut membuat ia seakan baru kembali dilahirkan dari rahim ibunya, sehingga menjadi putih bersih tanpa noda. Demikianlah ketika Allah berkehendak, “Kun! (jadilah!), maka jadilah ia”.

Saudaraku, ketika kita berfikir bahwa kita merasa belum nikmat dalam menggenggam Dienul Islam (agama Islam), atau kita masih merasa resah dan bingung serta bimbang tentang apa yang harus dilakukan terhadap agama ini, maka bersabarlah, dan mari kita pertahankan berbagai perilaku kebaikan serta bersihkan hati dari berbagai penyakitnya (iri, dengki, dusta, dll), maka sungguh suatu ketika cinta-Nya akan datang dan kita akan merasa hal itu datang dengan tiba-tiba. Hal yang terpenting pula supaya Allah berkenan untuk segera memberikan celupan keindahan aqidah di dalam hati kita, maka berusahalah mencari tahu tentang berbagai hal yang masih membuat kita bimbang dan tentu saja temukan dari ahlinya, bukan dari lidah para pendusta dan berdoalah kepada Allah swt agar Dia berkenan untuk selalu mengumpulkan kita dengan orang-orang yang shalih, orang-orang yang selalu takut kepada Tuhannya, orang-orang yang pada saat berdiri, ruku’, dan sujud, selalu mengingat Tuhannya.

“Cinta datang tiba-tiba, cinta adalah anugerah Yang Kuasa.
Cinta tak kan sia-sia, ketika kau menyapa.”
Sapalah cinta-Nya, jangan pernah kita lewatkan begitu saja.

Wallahu a’lam bish-shawab. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.

**************
Oleh : Muhammad al-Fatih (dakwatuna.com)
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/04/19848/cinta-datang-tiba-tiba/#ixzz1sI7iJOg0
Sumber foto : http://www.facebook.com/iloveallaah

Sabtu, 14 April 2012

Tertawa = Bahagia ?

Apakah kebahagiaan jiwa berbanding lurus terhadap intensitas tertawa? Apakah semakin sering tertawa, seseorang akan merasakan kebahagiaan jiwa?
Bagi saya, tidak. Kebahagiaan jiwa tidak selalu berbanding lurus terhadap intensitas tertawa. Kekosongan jiwa tetap saja saya rasakan ketika setiap hari, setiap saat saya tertawa. Iya, memang senang, tapi setelah itu, ya sudah, senangnya hilang berganti kekeringan.

Saya tidak tahu kenapa seperti ini. Mungkin inilah yang membuat sebagian orang-orang kaya, tenar, serta punya kekuasaan terjerumus menggunakan obat-obat terlarang dengan dalih mencari ketenangan. Jika kita lihat, mereka mempunyai apa yang diinginkan setiap orang, harta, popularitas, dan kekuasaan. Mereka juga tampak sering tertawa, dan sepertinya hidupnya diisi kesenangan semata. Tapi kenapa mereka masih saja mencari sesuatu yang bisa dianggap menenangkan dan menentramkan hati.

Jadi, apa sebenarnya kebahagiaan itu? Penasaran, saya sedikit googling tentang kebahagiaan.

Bahagia itu ialah tetap taat kepada Allah sepanjang hidup. 
Kebahagiaan adalah kondisi hati yang dipenuhi dengan keyakinan (iman) dan berperilaku sesuai dengan keyakinannya itu.

Oh, jadi pantas saja saya sering tertawa tapi tetap merasa hampa. Lha wong saya tertawa, tapi dengan itu saya jadi melewatkan waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk membaca. Saya tertawa, di saat jatah waktu untuk berdzikir. Saya tertawa, tanpa terasa membuang waktu begitu saja. Dan sampai akhirnya tertawa membuat saya lupa merenung, mengabaikan tafakur.

Dan di satu sisi, saya melewati hari tanpa membaca Al-Qur’an setiap hari. Terbukti bahwa Al-Qur’an memang melembutkan hati. Dalam hari-hari tanpa membaca Al-Qur’an tersebut, sempat saya berfikir, “Ah, tidak apa-apa hari ini saja tidak membaca Al-Qur’an. Besok kan juga bisa baca.”

Tapi, besoknya saya mengulangi pernyataan di atas, tidak apa-apa, untuk hari ini saja tidak membaca Al-Qur’an. Dan begitu seterusnya sampai saya menyadari ada yang keliru. Pelajaran yang didapat, meskipun tidak tahu arti yang dibaca, membaca Al-Qur’an tetap bisa menentramkan jiwa, bisa membantu meredam emosi, serta menguatkan kesabaran, yang berujung pada kebahagiaan. Setidaknya itu yang saya rasakan. :)
Ya, banyak tertawa bukan berarti jiwa bahagia. Karena sejatinya bahagia itu ketika hidup dalam ketaatan pada Sang Pencipta.